Konsekuensi dari memiliki adalah kehilangan, ketika memiliki berarti
harus siap kehilangan. Entah apapun itu, kapanpun itu.. karena sesungguhnya manusia tak pernah memiliki apa-apa kecuali diri dan amalannya. Sedangkan yang lainnya semua hanyalah titipan, meskipun titipan semua harus dijaga sebaik mungkin. Tiada yang abadi di dunia fana ini.
Seperti analogi berikut ini:
Jika seorang tukang parkir menata rapi motor, mengatur dan mengawasi mobil, kemudian si empunya mengambilnya kembali untuk pulang bukankah si tukang parkir tidak boleh marah? Ya, tentu aja tidak boleh. Karena itu bukan miliknya, dia hanya diamanati untuk menjaganya. Begitu pula dengan kehidupan, jika ada sesuatu yang hilang dalm hidup kita kita harus mengikhlaskannya, entah itu harta, benda, cinta, kasih sayang atau bahkan nyawa sekaliun...Itu semua hanya titipan yang wajib dijaga. Bahkan raga kita, tangan yang kita gunakan untuk menyentuh, untuk melakukan berbagai aktivitas, kaki yang kita gunakan untuk melangkah, mulut yang kita gunakan untuk bicara, mata yang kita gunakan untuk melihat semua hanya titipan. Kelak akan dimintai pertanggung jawaban kita dalam menjaga amanah terebut. Jadi benar-benar hanya diri (Jiwa/Roh dan amalan kita) yang kekal.
So, bagi sipa aja yang baru kehilangan cintanya, kekasih yang tak mencintaimu lagi, atau yang baru kehilangan saudaranya, kehilangan sahabatnya Usah risaukan lagi. ikhlaskan semua... Hidup yang singkat terlalu sayang jika hanya digunakan untuk menangisi yang telah pergi ataupun hilang. Masa depan yang lebih cerah telah menanti. Tiada yang perlu dikhawatirkan selagi nikmat iman dan islam masih melekat di dada (Bagi yang Moslem).
Semangat!!!(chuwiee-20’04’13)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar