Selasa, 28 Mei 2013

Sebuah Analogi tentang "PENCITRAAN"


Tak perlu mencitrakan diri seolah-olah baik (Jika hanya sekedar pencitraan)

Yang penting adalah bagaimana menjadi BENAR-BENAR BAIK
Karena Kebaikan itu sendirilah yang akan membentuk pencitraanMu..
Just the way you are..
Like a Remote sensing:
Citra Jalan... Ronanya tampak cerah dibanding perairan karena bersifat memantulkan cahaya, demikian pula manusia... Jika dirinya baik, maka kebaikan itu akan memantul ke sekelilingnya.


Didedikasikan untuk orang-orang yang selalu berpura-pura baik, padahal dirinya busuk.

(by: Dwi P, 14 January 2013)

Konsekuensi Memiliki (sebuah ANALOGI)


Konsekuensi dari memiliki adalah kehilangan, ketika memiliki berarti harus siap kehilangan. Entah apapun itu, kapanpun itu.. karena sesungguhnya manusia tak pernah memiliki apa-apa kecuali diri dan amalannya. Sedangkan yang lainnya semua hanyalah titipan, meskipun titipan semua harus dijaga sebaik mungkin. Tiada yang abadi di dunia fana ini.

Seperti analogi berikut ini:

Jika seorang tukang parkir menata rapi motor, mengatur dan mengawasi mobil, kemudian si empunya mengambilnya kembali untuk pulang bukankah si tukang parkir tidak boleh marah? Ya, tentu aja tidak boleh. Karena itu bukan miliknya, dia hanya diamanati untuk menjaganya. Begitu pula dengan kehidupan, jika ada sesuatu yang hilang dalm hidup kita kita harus mengikhlaskannya, entah itu harta, benda, cinta, kasih sayang atau bahkan nyawa sekaliun...Itu semua hanya titipan yang wajib dijaga. Bahkan raga kita, tangan yang kita gunakan untuk menyentuh, untuk melakukan berbagai aktivitas, kaki yang kita gunakan untuk melangkah, mulut yang kita gunakan untuk bicara, mata yang kita gunakan untuk melihat semua hanya titipan. Kelak akan dimintai pertanggung jawaban kita dalam menjaga amanah terebut. Jadi benar-benar hanya diri (Jiwa/Roh dan amalan kita) yang kekal.

So, bagi sipa aja yang baru kehilangan cintanya, kekasih yang tak mencintaimu lagi, atau yang baru kehilangan saudaranya, kehilangan sahabatnya Usah risaukan lagi. ikhlaskan semua... Hidup yang singkat terlalu sayang jika hanya digunakan untuk menangisi yang telah pergi ataupun hilang. Masa depan yang lebih cerah telah menanti.  Tiada yang perlu dikhawatirkan selagi nikmat iman dan islam masih melekat di dada (Bagi yang Moslem).


Semangat!!!(chuwiee-20’04’13)

Rabu, 22 Mei 2013

Esensi sebuah Kata "MAAF"


“MAAF”

Terdiri dari empat huruf, dua suku kata...
Lidah mungkin mampu mengucapkannya 100 kali perhari
Seperti “mpok minah” yang selalu menyelipkan kata “maaf” dalam tiap ucapannya..
Namun taukah...???
“MAAF” yang kadang mudah diucapkan itu butuh “EKSIS”
Kata “MAAF” seringkali hambar tanpa adanya perubahan sikap sebagai tanda penyesalan
“MAAF” berarti menyesalkan atas apa yang terjadi,
Eksistensi “MAAF” nampak pada adanya perubahan sikap ke arah yang lebih baik..
Itu adalah maaf yang benar-benar tulus lahir dari dalam hati,
Bukan sekedar ucapan yang terlontar dari mulut
~Chooey~
27 March 2013



Senin, 06 Mei 2013

Hampa

Bagai pagi yang tak bermentari
Bagai malam yang tak berbintang
Betapa kelamnya langit ...
Sepinya waktu merangkai hari
Meniti sunyi, memenjarakan hati
Dalam kekosongan abadi
Semua hampa tanpa hadirmu di sini

(30 Sept’10 07.15 am)
_Chooey-

Ketika Mentari Menghilang


Dan ketika pagipun datang...
masih setia menanti hangatnya sinar mentari..
Yang tak tau entah kemana kini bersembunyi..
Atau malukah menampakkan diri...
Seolah tak tau dan tak peduli betapa ia dirindui

Namun biarlah jika mentari itu tak mau lagi menampakkan diri..
Biar saja bunga layu..
Hingga rindunya samar perlahan memudar..
Kar’na mungkin memang tak semestinya...
Begitulah takdir diri

Hanya bisa senyum ikhlas menjalani
17032013

Kini mentari itu telah muncul lagi
Bungapun mekar kembali...
Meski tak tau entah sampai kapan bertahan
Namun patut disyukuri
(30032013)

Wikipedia

Hasil penelusuran